September 5, 2010
Butuh Rp 100 Triliun Untuk Bangun JSS

jss1JAKARTA - Artha Graha Network melalui PT. Bangungraha Sejahtera Mulia merampungkan studi kelayakan awal (pra feasibility study, pra FS) Jembatan Selat Sunda. Hasilnya telah diserahkan lansung kepada Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiah dan Gubernur Lampung, Sjachroedin ZP, tadi malam.

Terungkap dalam kegiatan itu—hasil dari studi kelayakan—dana yang dibutuhkan untuk pembangunannya JSS adalah sebesar Rp 100 triliun rupiah. Dana sebesar itu, hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam pembangunan infrastrukturnya saja, sedangkan untuk pembebasan lahan di sekitar JSS, masih dibahas oleh Pemprov Lampung dan Pemprov Banten.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah menyatakan optmismenya bahwa mega proyek yang akan menjadi jembatan terpanjang di dunia ini bisa terealisasi. Apalagi, keberadaan akses jembatan itu sudah lama dinanti-nanti oleh masyarakat, baik di Pulau Jawa maupun Pulau Sumatera. Atut mengatakan, Pemprov Banten siap memberikan dukungan seandainya pemerintah mengeluarkan payung hukum, baik berbentuk perpres maupun bentuk regulasi lainnya.

“Selama ini urat nadi perekonomian antar Jawa dan Sumatera hanya dilayani oleh Kapal Feri antar pulau, yang kapasitasnya terbatas. Sementara pada sisi lain, jumlah penduduk pulau Jawa dan Sumatera, yang mencakup lebih kurang 80 persen populasi Indonesia, menuntut adanya mobilitas tinggi guna mengimbangi mobilitas pertumbuhan ekonomi kedua pulau,” terang Atut.

Senada dengan Gubernur Banten, Gubernur Lampung Sjachroedin ZP dalam sambutannya menyatakan jembatan selat sunda sudah sangat dibutuhkan, mengingat volume kendaraan yang melalui Pelabuhan Merak dan Bakauheni dari tahun ke tahun terus meningkat. “Saat ini saja, tercatat 3.500 kendaraan, 35.000 orang, serta 20 juta ton batu bara yang melewati kedua pelabuhan. Terlebih lagi jika cuaca lagi buruk antriannya dapat mencapai 10 kilometer,” ungkap Sjachroedin.

“Tidak dapat dibayangkan kondisi 10 tahun ke depan seandainya jembatan belum juga direalisasikan. Sehingga 10 Gubernur se-Sumatra memasukannya ke dalam empat rekomendasi yang harus dilaksanakan pemerintah,” ujarnya.

Dia mengatakan, 60 persen ekspor nasional berasal dari Sumatra, 40 persen gula berasal dari Lampung, kalau ditambah dengan Jambi dan Palembang sudah mencapai 50 persen lebih.

Hasil Pra-FS yang berhasil dirampungkan Artha Graha Network yang dipimpin Tommy Winata diserahkan kepada Gubernur Banten dan Lampung, untuk kemudian diserahkan pemerintah pusat.

Tommy Winata mengatakan, motivasi untuk melakukan pra FS adalah agar pembangunan JSS segera direalisasikan. Pihaknya mengaku tidak tidak mempertimbangkan soal keuntungan dalam pembuatan Pra FS.

“Kalau dari hitung-hitungan bisnis, tidak akan untung membuat studi semacam ini. Tetapi kalau tidak ada yang memulai maka siapa yang akan membangun jembatan ini,” tuturnya.

Studi Lebih Dalam
Pembuatan Pra FS jembatan Selat Sunda berawal ditandatanganinya Memorandum of Agreement (MoA) pada 3 Oktober 2007 dengan mengikutsertakan konsultan terkenal Prof. Dr. Wiratman Wangsadinata.

Dalam kesempatan itu, Suratman juga menyatakan, masih membutuhkan studi lebih dalam lagi untuk menentukan struktur terbaik dari jembatan terpanjang di dunia itu. Karena kalau jadi dibangun, JSS akan memiliki panjang lebih dari 30 kilometer.

“Bentang tengah terpanjang di dunia saat ini mencapai 2200 meter, dalam Pra FS Jembatan Selat Sunda punya bentang tengah mencapai 3800 meter,” ujarnya.

Dalam studi lebih lanjut masih harus dilihat potensi gempa di kawasan itu, harus dipertimbangkan adanya patahan yang memang ada kemudian juga Gunung Krakatau yang masih aktif. Potensi gempa itu nantinya untuk melihat kekuatan struktur yang akan dibangun. Semuanya sebenarnya dapat diukur sebelum ditawarkan kepada investor yang berminat mengerjakannya.

Sedangkan Menteri Perencana Pembangunan Nasional dan Ketua Bappenas Paskah Suzetta mengatakan, dukungannya dengan diselesaikannya pembuatan Pra-FS Jembatan Selat Sunda. Paskah menyatakan proyek ini tentunya akan mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat pada periode lima tahun ke depan.

“Jika hasil studi kelayakannya telah kami terima, tentu akan langsung kami kaji,” kata Paskah saat memberi sambutan dalam acara penyerahan hasil pra studi kelayakan itu.

Dia mengatakan, kebutuhan pembangunan infrastruktur di Indonesia mencapai Rp1,6 biliun (setelah triliun) atau 3,5 persen dari PDB, namun kemampuan anggaran pemerintah hanya 30 persen atau sekitar Rp450 triliun. Sehingga masih ada kesenjangan sangat besar di atas Rp1 biliun.

“Idealnya kesenjangan harus ditutup agar menuju pertumbuhan ekonomi 5 sampai 7 persen pada periode 2009 - 2014, jelas Paskah.

Dia juga tengah mengusulkan bagi perusahaan swasta yang sudah melaksanakan studi kelayakan awal, apabila biasanya saat tender mendapat kemudahan (previlage) sampai 10 persen akan ditingkatkan menjadi 20 persen.

“Semata-mata usulan ini untuk menarik minat kerjasama pemerintah swasta terutama untuk menggarap proyek skala besar seperti Jembatan Selat Sunda,” ujarnya.

Selain Meneg Perencana Pembangunan Nasional dan Ketua Bappenas Paskah Suzetta, Dirjen Bina Marga Hermanto Dardak mewakili Menteri PU, dan wakil dari Menko Perekonomian juga terlihat menghadiri acara yang digelar di Hotel Borobudur Jakarta itu.

(TERAS NETWORK)

Share this post

Digg del.icio.us Stumbleupon Technorati Reddit

One Response to “Butuh Rp 100 Triliun Untuk Bangun JSS”

Leave a Reply